Pengaruh Tingkat Harapan dan Dukungan Sosial pada Kesejahteraan Hidup (Studi Kasus Masyarakat Miskin Perkotaan di Surabaya)

Peneliti: Ilham Nur Alfian (Fakultas Psikologi Unair), F. Dessi Christanti dan J. Dicky Susilo (Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya)

Kenaikan harga-harga di atas dapat dipastikan akan menurunkan kemampuan masyarakat ekonomi menengah ke bawah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini disebabkan karena ketika harga BBM mengalami kenaikan yang diikuti harga-harga barang lainnya, pada saat bersamaan tidak ada peningkatan pendapatan masyarakat yang cukup signifikan untuk mengimbangi kenaikan harga. Kondisi keuangan/finansial masyarakat seperti yang diuraikan di atas akan mempengaruhi kualitas hidup secara umum atau kesejahteraan hidup (well-being) masyarakat.

Kualitas hidup yang disebut kesejahteraan pada sebenarnya bukan hanya dalam pengertian sejahtera secara ekonomis, tetapi juga sejahtera secara psikologis dan sosial. Kesejahteraan hidup secara psikologis pada diri seseorang ditandai dengan tingkat stress yang rendah, suasanan hati (moods) yang positif, emosi yang positif, dan pengalaman menikmati hidup (Diener dan Seligman, 2004). Aspek psikologi dari kesejahteraan hidup tersebut kemudian berdampak pada kualitas sosial yang ditandai dengan hubungan interpersonal yang positif, tidak adanya kecenderungan bunuh diri, atau meningkatnya produktivitas kerja seseorang.

Kaitan antara penurunan pendapatan dan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup akibat kenaikan harga-harga dengan kesejahteraan hidup menunjukkan adanya kemungkinan buruk krusial dimana masyarakat akan menghadapi resiko memburuknya tingkat kesejahteraan. Dampak yang lebih buruk kemungkinan akan timbul jika buruknya kesejahteraan hidup pribadi pada tingkat individu secara kolektif bertransformasi menjadi penyakit/patologi sosial.

Kajian secara teoritis maupun terhadap hasil-hasil penelitian selama ini menunjukkan bahwa kesejahteraan dipengaruhi oleh aspek-aspek kehidupan lain diantaranya kondisi kemasyarakatan yang ada (society), dukungan sosial (social support), kondisi kerja (work), kesehatan fisik, gangguan mental, dan hubungan sosial (Diener dan Seligman, 2004).

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis yang menyatakan bahwa “ada pengaruh tingkat harapan dan dukungan sosial pada kesejahteraan hidup”. Dengan demikian, penelitian ini merupakan penelitian survei yang bersifat kuantitatif untuk mengetahui pengaruh variabel harapan atau tingkat harapan dan dukungan sosial terhadap variabel kesejahteraan hidup pada masyarakat yang dikategorikan miskin.

Penelitian ini dilakukan di 4 (empat) wilayah kecamatan di kota Surabaya, yaitu: kecamatan Sukolilo dan Tambaksari (Surabaya Timur), serta kecamatan Tegalsari dan Genteng (Surabaya Pusat). Jumlah responden yang berhasil didapatkan dalam penelitian ini sebanyak 215 orang. Diantara 215 orang yang berhasil didapat, hanya ada 173 orang yang bisa dianalisis, sementara 42 orang lainnya tidak dapat dianalisis karena mereka tidak termasuk dalam kategori miskin.

Hasil analisis deskriptif menunjukkan tingkat signifikansi koefisien korelasi antara kesejahteraan psikologis dengan tingkat harapan dan dukungan sosial sebesar 0.000. Oleh karena probabilitasnya jauh di bawah 0.05, maka korelasi diantara variabel kesejahteraan psikologis dengan tingkat harapan dan dukungan sosial sangat nyata. Uji regresi menghasilkan F hitung sebesar 19.218 dengan tingkat signifikansi 0.000. Oleh karena probabilitasnya jauh lebih kecil dari 0.05, maka model regresi ini dapat dipakai untuk memprediksi variabel kesejahteraan psikologis. Atau dapat dikatakan, variabel harapan dan dukungan sosial secara bersama-sama mempengaruhi kemunculan variabel kesejahteraan psikologis

Kata Kunci: tingkat harapan, dukungan sosial, kesejahteraan hidup, masyarakat miskin perkotaan

Leave a Reply